Category Archives: Kicauan

#Demand #Teman

Mencari teman pada usia tak sekolah memang lebih menantang. Menantang atau sulit? kata yang lebih sederhana sebenarnya sulit. Teman kita butuhkan ketika kita butuh ngobrol tentang hal-hal yang sederhana sampai hal berat yang tak berhubungan dengan pekerjaan atau tanggung jawab yang lebih bersifat formal. Masa itu telah hilang, masa di mana kita masih terlalu sering bebuat hal-hal ringan dan menyenangkan.

Teman memang multi-role, terkadang bisa berperan menjadi kakak, menjadi adik, menjadi paman/bibi, bahkan bisa berperan menjadi pacar, tentu dengan batasannya masing-masing. Terkadang kita tak perlu menyaring apa yang kita keluhkan, apa yang ingim kita rahasiakan. Teman(baca: sahabat) mempunyai sistem filternya sendiri.

Aku masih butuh teman untuk sekedar membicarakan hal ringan, menemani makan malam, bahkan berdebat tentang hal-hal yang prinsipil. Sesungguhnya tak ada persyaratan yang berat untuk berteman, yang penting masih bisa melakukan hal gila bersama, saling memaki, dan menyayangi satu sama lain.

Aku butuh teman makan malam.

Yogyakarta, 22 Maret 2016

Perankan Mbah Gopar dalam Teater Sanggar Nggepok

Pengalaman latihan dan bermain teater pertamaku ya di Sanggar Nggepok. Teater yang menjalani titah naskah cerpen kawanku yang bernama Syaifur Rohman, atau yang akrab dipanggil Asep. Cerpen itu berjudul Perempuan Cahaya Dunia yang dipentaskan pada 21 April 2014, bertepatan dengan hari Kartini.

Mbah Gopar dalam Teater Perempuan Cahaya Dunia - Sanggar Nggepok

Mbah Gopar dalam Teater Perempuan Cahaya Dunia – Sanggar Nggepok

Sanggar Nggepok, terlintas nuansa negatif ketika kita mengerti apa arti kata Nggepok. Nggepok berasal dari bahasa Jawa yang bermakna enggan, males banget, pemalas, ogah-ogahan. Halah kita gak bahas Sanggar Nggepok lebih dalam di sini, pokoknya Sanggar Nggepok itu tempat kumpulnya anak-anak Cilacap yang masih di Jogja terutama yang koplak yang pengin mengkreasikan seni budaya daerah.

Dua minggu sebelum pentas, baru diadakan seleksi/casting pemeran teater, akhirnya aku lolos seleksi memerankan Mbah Gopar, sosok sederhana yang suka membaca dan menonton berita, dan suka bercanda. Mbah Gopar di sini berperan sebagai pemecah persoalan yang dihadapi Partinah dan Peang.

Berikut sinopsis teater bertajuk Perempuan Cahaya Dunia:

Peran perempuan dalam memajukan peradaban masyarakat kita terkadang tersamarkan oleh “kegarangan” laki-laki dan oleh kelembutan perempuan sendiri. Sebenarnya dalam kelembutanya, perempuan dalam hal tertentu lebih kuat dari laki-laki, begitu juga dalam hal pemikiran, Perempuan terkadang juga lebih maju dan rasional dari laki-laki. Partinah seorang perempuan desa dalam keadaan kekurangan secara finansial masih memiliki cita-cita yang tinggi agar anaknya Bonang bisa melanjutkan pendidikanya sampai kuliah. Tetapi keinginanya untuk bekerja membantu suaminya tidak serta-merta diijinkan oleh suaminya yang masih berfikiran “kolot”. Apakah Partinah akhirnya diijinkan untuk bekerja oleh suaminya? Bagaimanakah tanggapan orang-orang disekitar Partinah?

Jika pengin lihat dokumentasi pentas teaternya, tonton aja videonya di kanal youtube Sanggar Nggepok atau tonton pada video yang sudah disematkan di bawah ini:

Kicauan: Kisah #piknik di @desagiritirta

Berikut saya lampirkan beberapa kicauan saya saat #piknik di @desagiritirta

Terimakasih, silakan berkunjung ke desa Giritirta. Dijamin gak bakalan nyesel


@khayate

Rapuh atau Terpuruk di Februari?

Februari 2013 mungkin menjadi bulan yang rapuh bagi saya. Bulan di mana saya merasa gagal menjadi diri sendiri. Saya sudah menjanjikan sesuatu kepada manusia bernama Muhammad Khayat, tapi dirasa belum bisa memnuhi janji itu. Pergulatan rasa jiwa dan raga bercampur meracuni imaji. Saya merasa rapuh di Februari ini.

Rapuh karena timeline produktivitas terganjal sesuatu rasa di raga ini. Mungkin soal pola hidup, mungkin juga soal rasa yang menggumpal dalam tubuh ini. Saya pernah menuliskan tentang resolusi WOW 2013, tetapi sudah berjalan dua bulan, saya sudah merasa gagal. Belum jelas apa yang membuat saya merasa gagal menjalani resolusi hidup saya di tahun ini.

Saat sedikit kebahagiaan menghampiri di awal Februari, itu hanya menjadi tumpuan ganjalan bersarang. Ganjalan yang secara sistemik menjalar ke berbagai lini kehidupan saya. Beriringan dengan pergantian hari di Februari ini, fisik ini mengalami degradasi. Ah, semoga ini dari faktor psikis aja bukan murni fisik.

Tahun 2013 belum berakhir, bahkan baru pada titik permulaan. Mungkin saya hanya bisa menuliskan kicauan di sini. Yah, tempat kicauan yang mungkin tak peduli hanya menjadi konsumsi saya pribadi. Tak peduli anggapan bahwa ini keluhan, umpatan atau apapun. Tapi singkat kata, saya harus bisa melawan keterpurukan ini.

Mungkin dengan menyanyi saya bisa move on:

“Lonely Day”

Such a lonely day
And it’s mine
The most loneliest day of my life

Such a lonely day
Should be banned
It’s a day that I can’t stand

The most loneliest day of my life
The most loneliest day of my life

Such a lonely day
Shouldn’t exist
It’s a day that I’ll never miss
Such a lonely day
And it’s mine
The most loneliest day of my life

And if you go, I wanna go with you
And if you die, I wanna die with you

Take your hand and walk away

The most loneliest day of my life
The most loneliest day of my life
The most loneliest day of my life
Life

Such a lonely day
And it’s mine
It’s a day that I’m glad I survived

Hidup ini indah, masa muda apa lagi. Kita harus tetap merasa muda untuk tetap bisa menjalani tantangan yang diberikan Tuhan.

Petualangan ke Palangka Raya Berujung di Sungai Kahayan

Senengnya selama 4 hari (6-9/02/2013) di Palangka Raya. Rasanya waktu begitu cepat terlewat. Seneng karena aku bertemu dengan banyak kawan-kawan yang punya semangat belajar tingkat tinggi. Kawan-kawan pemerhati lingkungan dari kampung-kampung pedalaman di Kalimantan, tepatnya Kalimantan Tengah (Kalteng).
Continue reading

Tiga Kalinya ke Palangka Raya

Kali ketiga nginep di hotel ini, Amaris namanya. Hotel yang terletak di tengah kota Palangkaraya yang ramah kaum difable. Kenapa? Tangga untuk naik ke lantai atas tidak berundak-undak tapi landai menanjak, bisa buat plorotan.

Sekitar pukul 15 WIB, aku tiba di hotel itu, langsung tidur deh karena sumeng atau meriyang. Mungkin karena kecapekan ditambah hujan-hujanan. Malemnya, aku bertemu dengan banyak kawan lama para pewarta warga Kalimantan yang fokus pada isu lingkungan hidup, ada yang sangat aku kenal, beliau sang penjaga hutan Mentangai Hulu, Norhadi Karben dan Niji Dirman. Di antara lainnya agak sedikit lupa :D.

Tak jauh ada perubahan dari tahun ke tahun pas aku ngunjungin Palangka Raya. Tapi pas aku mendarat di Bandara Tcilik Riwut ada spanduk pekan budaya Dayak 2013.

image

Spanduk pekan budaya Dayak di Bandara Tcilik Riwut

Tapi tujuanku ke Palangka Raya ini bukan untuk nonton pekan budaya Dayak itu tapi untuk pelatihan pewarta warga Borneo Climate. Yaaa.. semoga aja bisa nyempatin waktu ngeliat pertunjukan budaya tersebut.

Lulus SMA Berkalung Selendang

Delapan tahun lalu, aku masih menjadi siswa SMA yang berada pada ujung pintu keluar.  Saat yang mendebarkan bagi setiap siswa yang sudah menempuh Ujian Akhir Nasional (UAN) dan menunggu pengumuman kelulusan. Deg-degan rasanya tak karuan sambil berdoa semoga aku lulus.

Aku berangkat ke sekolah diantar ayahku tercinta untuk mengambil surat pengumuman kelulusan. Jika dibayangkan, aku bagaikan seorang ibu yang menggendong anaknya dan diantar suaminya menuju puskesmas untuk imunisasi. Yang kugendong bukan bayi, tapi tangan kiriku yang patah akibat bermain sepakbola.

Saat itu, tulang hastaku (antara sikut dan pergelangan) belum merekat kembali dengan sempurna sehingga ayahku tak berani mengendarai motor yang memboncengku cepat-cepat. Aku tahu ayahku sayang padaku sehingga beliau sangat hati-hati memboncengku, memilih bagian jalan yang halus dari bentuk jalan seperti lahan off road berbatu. Continue reading

Asramaku Semakin Asri dan Rapih

Pelataran Asrama tampak dari samping

Pelataran Asrama tampak dari samping

Siang hari menjelang sore (20/05/2012) sekitar pukul 14.00 saia tiba di Asrama Benteng Pendhem yang merupakan sekretariat Himpunan Mahasiswa Cilacap di Yogyakarta (HIMACITA). Saia cukup gembira setelah menempuh perjalanan dari kantor infest (sekitaran terminal lama jogja) menggunakan layanan transportasi publik transjogja menuju asrama di belakang Monumen Jogja Kembali (Monjali). Continue reading